bUDIMAN ONG – MENGEMAS CAHAYA DENGAN INDAH

Budiman Ong menyelesaikan pendidikannya di Gray’s School of Art, Robert Gordon University di Skotlandia. Selepas kuliah ia kembali ke Indonesia, bekerja di divisi lifestyle John Hardy (Perusahaan perhiasan dan aksesori gaya hidup) selama enam tahun. Baru pada tahun 2008 ia mendirikan biro desain sendiri yang bermarkas di Bali. Tertarik dan penasaran dengan lampu-lampunya yang unik, kami mewawancarai Budiman pada sebuah pameran yang ia ikuti beberapa tahun lalu. Ternyata semua berawal dari melipat-lipat kertas.

Continue reading “bUDIMAN ONG – MENGEMAS CAHAYA DENGAN INDAH”

fOUR-METERS-WIDE HOUSE

Bandung punya banyak orang kreatif di bidangnya masing-masing. Tapi ketika saya membaca kata ‘Bandung’ dan ‘Kreatif’ diletakkan berdekatan, yang terlintas di benak saya sesosok om-om bercelana pendek dengan senyumnya yang ramah. Dendy Darman. Om Dendy bukan lulusan arsitek. Ia lebih dulu dikenal sebagai desainer grafis. Tapi ia bisa merancang rumah dengan caranya. Hasilnya luar biasa. HABA House bukan proyek terbaru, tapi jelas salah satu yang paling ikonik.

Continue reading “fOUR-METERS-WIDE HOUSE”

aDA JIA DI SHANGRI LA

Dulu ada restoran masakan China yang terkenal di hotel Shangri La. Namanya Shang Palace. Kemudian restoran ini direnovasi dan tampil kembali sebagai JIA. Masih dengan masakan China, namun baik menu dan penataan interiornya menjadi lebih kontemporer.

Shangri La menggunakan jasa biro desain asal Jepang, Bond, untuk merancang JIA. “Klien ingin sebuah modern Chinese restaurant yang sajian utamanya Bebek Peking dan Chinese Tea. Untuk memperluas segmen tamu yang datang, kami memberikan sentuhan kasual dan modern,” jelas Akane Kai dari Bond Studio melalui email. Proses desain dan pengerjaannya memakan waktu hingga dua tahun, dari akhir 2014 hingga akhir 2016. “Terjadi pertemuan budaya minum teh dengan budaya minum-minum di cafe. Artinya, kami memadukan budaya Indonesia, China, dan Barat, dengan rasa modern. Kami ingin menghasilkan Chinese restaurant dengan suasana kasual seperti cafe,” tambahnya.

Continue reading “aDA JIA DI SHANGRI LA”

dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING

“Save the best for last. Kalimat tersebut sangat sesuai untuk vila ini. Letaknya di akhir sebuah jalan, sekaligus di ujung tebing. Bahkan sebagian bangunannya menggantung di atas tebing dan sungai di bawahnya.”

 

Di atas kertas, lahan ini terkesan besar, 700 meter persegi. Namun pada kenyataannya, sebagian besar berupa lereng batu yang terjal ke arah sungai. Jadi hanya sebagian kecil yang bisa dibangun. Terdengar seperti masalah besar, namun tidak bagi seorang arsitek. “Kita harus pandai melihat potensi lahan. Dengan bantuan teknis konstruksi, lahan yang tidak punya value bisa kita sulap menjadi properti yang bernilai bisnis serta hunian yang  nyaman. Kita bisa memanfaatkan potensi view dan ornamen yang sudah disediakan alam dan budaya di Bali. Misalnya Pura di seberang sungai itu. Sangat menarik untuk kita jadikan objek desain arsitektur yang menjadi focal view, ” jelas Alec, arsitek yang merancang dan juga pemilik vila ini. Continue reading “dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING”

mEMBINGKAI DI KIRI SOCIAL BAR

Social Bar disini berarti bar untuk bersosialisasi. Bukan bar yang melakukan kegiatan sosial dengan menyantuni fakir miskin dan anak terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara. Karena jarang menantang udara malam di Bandung yang dingin, saya mengunjungi KIRI di pagi hari, sekitar pukul 9. Tentu saja bar ini masih tutup.  Continue reading “mEMBINGKAI DI KIRI SOCIAL BAR”