rUMAH NENEK IVANNA

 

Vila ini dimiliki oleh keluarga Abagian yang berasal dari Caluso, Italia, sebuah kota kecil di kaki Gunung Alpen. Sepuluh tahun terakhir mereka habiskan tinggal di Hong Kong dan Sydney. Sebagai pecinta olahraga selancar dan pantai, Bali yang letaknya di tengah-tengah kedua kota tersebut menjadi pilihan bagi keluarga Abagian membangun rumah liburan mereka dan berpotensi menjadi tempat tinggal tetap di kemudian hari.

Sayang saya tidak sempat bertemu dengan keluarga yang terdengar keren ini. Bagaimana tidak, vila ini mereka namakan Nonnavana untuk mengenang sang nenek. Alex sang kepala keluarga, berharap vila ini bisa menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga, layaknya pelukan hangat sang nenek. “Kebanyakan tamu tinggal di sini untuk akhir pekan. Namun tidak jarang pula yang memilih tinggal selama sebulan penuh. Kami berharap vila ini bisa menjadi tempat bagi keluarga untuk menciptakan memori-memori menyenangkan mereka,” harap Alex yang menjawab lewat email. Continue reading “rUMAH NENEK IVANNA”

dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING

“Save the best for last. Kalimat tersebut sangat sesuai untuk vila ini. Letaknya di akhir sebuah jalan, sekaligus di ujung tebing. Bahkan sebagian bangunannya menggantung di atas tebing dan sungai di bawahnya.”

 

Di atas kertas, lahan ini terkesan besar, 700 meter persegi. Namun pada kenyataannya, sebagian besar berupa lereng batu yang terjal ke arah sungai. Jadi hanya sebagian kecil yang bisa dibangun. Terdengar seperti masalah besar, namun tidak bagi seorang arsitek. “Kita harus pandai melihat potensi lahan. Dengan bantuan teknis konstruksi, lahan yang tidak punya value bisa kita sulap menjadi properti yang bernilai bisnis serta hunian yang  nyaman. Kita bisa memanfaatkan potensi view dan ornamen yang sudah disediakan alam dan budaya di Bali. Misalnya Pura di seberang sungai itu. Sangat menarik untuk kita jadikan objek desain arsitektur yang menjadi focal view, ” jelas Alec, arsitek yang merancang dan juga pemilik vila ini. Continue reading “dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING”

mEMBINGKAI DI KIRI SOCIAL BAR

Social Bar disini berarti bar untuk bersosialisasi. Bukan bar yang melakukan kegiatan sosial dengan menyantuni fakir miskin dan anak terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara. Karena jarang menantang udara malam di Bandung yang dingin, saya mengunjungi KIRI di pagi hari, sekitar pukul 9. Tentu saja bar ini masih tutup.  Continue reading “mEMBINGKAI DI KIRI SOCIAL BAR”

gOLKAR JAKARTA, UNJUK VISI DENGAN DESAIN KANTOR BARU

“Golkar adalah partai politik lama. Buat saya, sangat identik dengan orde baru. Negatif. Tapi setelah melihat kantor ini, mungkin saya bisa memberi mereka kesempatan”.

Terkadang kita jengah menyaksikan para politisi ‘berakting’. Malah beberapa orang memilih bersikap apatis. Beda dengan para arsitek dari Delution yang terbuka dengan segala kemungkinan. Mereka bisa menangkap visi klien mereka, Golkar Jakarta, untuk berubah menjadi partai politik yang lebih transparan dan membaur dengan rakyat. Biro desain ini mewujudkan visi itu dengan karya arsitektur. Continue reading “gOLKAR JAKARTA, UNJUK VISI DENGAN DESAIN KANTOR BARU”

sINGGAH DI KANTOR FELIPE (2)

“Konsep modern yang dieksekusi dengan material modern tidak membuat kantor ini terasing dari alam sekitarnya.”

Felipe Gonzalez sadar bahwa kekuatan Bali adalah keindahan alamnya. Maka dalam bangunan yang begitu modern seperti ini pun, ia tidak lupa untuk ‘mengundang alam’ untuk masuk ke interior, melalui jendela-jendela besar. Continue reading “sINGGAH DI KANTOR FELIPE (2)”