aDA JIA DI SHANGRI LA

Dulu ada restoran masakan China yang terkenal di hotel Shangri La. Namanya Shang Palace. Kemudian restoran ini direnovasi dan tampil kembali sebagai JIA. Masih dengan masakan China, namun baik menu dan penataan interiornya menjadi lebih kontemporer.

Shangri La menggunakan jasa biro desain asal Jepang, Bond, untuk merancang JIA. “Klien ingin sebuah modern Chinese restaurant yang sajian utamanya Bebek Peking dan Chinese Tea. Untuk memperluas segmen tamu yang datang, kami memberikan sentuhan kasual dan modern,” jelas Akane Kai dari Bond Studio melalui email. Proses desain dan pengerjaannya memakan waktu hingga dua tahun, dari akhir 2014 hingga akhir 2016. “Terjadi pertemuan budaya minum teh dengan budaya minum-minum di cafe. Artinya, kami memadukan budaya Indonesia, China, dan Barat, dengan rasa modern. Kami ingin menghasilkan Chinese restaurant dengan suasana kasual seperti cafe,” tambahnya.

Continue reading “aDA JIA DI SHANGRI LA”

mAKE LIFE A RIDE, BMW MOTORRAD JAKARTA

“Saya bukan seorang penggemar berat motor apalagi rider yang gemar touring. Tapi saya bisa merasakan passion yang ingin disampaikan oleh pemiliknya, Joe Frans. Dia sangat peduli soal bagaimana showroomnya dirancang, bukan Cuma soal terlihat keren atau cantik.”

“Tempat ini bukan mengutamakan penjualan produk. Kami lebih menawarkan gaya hidup yang sesuai dengan karakter produk kami. Karena itulah displai produk-produk (motor) bukan elemen utama interiornya,” jelas Joe Frans, CEO Maxindo Moto Nusantara, selaku importir resmi dan distributor tunggal BMW Motorrad di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari komposisi interior yang lebih banyak menampung fungsi sebagai kafe, lounge, game room, ruang serbaguna, hingga penjualan merchandiseContinue reading “mAKE LIFE A RIDE, BMW MOTORRAD JAKARTA”

kISAH DI BALIK KOTAK

Cerita berawal dari kesamaan passion dua orang lulusan sekolah arsitektur di Houston yang memilih tidak menjadi arsitek. Untuk mengisi rumah pertama mereka di Miami, Marcel dan Maya membeli furnitur-furnitur bekas, lalu mendesain ulang untuk memberinya tampilan baru. Puas dengan hasilnya, mereka menyadari keseruan baru dalam mendesain, mendekor, dan menata interior, dengan menjadikan furnitur sebagai bagian utamanya. Kedua arsitek ini pun yakin untuk berbelok sedikit dari dunia arsitektur. Mereka memutuskan untuk mengujinya di tempat yang baru. Pasangan suami istri ini kemudian pergi ke Indonesia. Mereka membeli one way ticket. Artinya, tidak pilihan lain selain mencapai sukses di negeri yang baru. (Wawancara berlangsung pada 2014)

Continue reading “kISAH DI BALIK KOTAK”

rUMAH NENEK IVANNA

 

Vila ini dimiliki oleh keluarga Abagian yang berasal dari Caluso, Italia, sebuah kota kecil di kaki Gunung Alpen. Sepuluh tahun terakhir mereka habiskan tinggal di Hong Kong dan Sydney. Sebagai pecinta olahraga selancar dan pantai, Bali yang letaknya di tengah-tengah kedua kota tersebut menjadi pilihan bagi keluarga Abagian membangun rumah liburan mereka dan berpotensi menjadi tempat tinggal tetap di kemudian hari.

Sayang saya tidak sempat bertemu dengan keluarga yang terdengar keren ini. Bagaimana tidak, vila ini mereka namakan Nonnavana untuk mengenang sang nenek. Alex sang kepala keluarga, berharap vila ini bisa menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga, layaknya pelukan hangat sang nenek. “Kebanyakan tamu tinggal di sini untuk akhir pekan. Namun tidak jarang pula yang memilih tinggal selama sebulan penuh. Kami berharap vila ini bisa menjadi tempat bagi keluarga untuk menciptakan memori-memori menyenangkan mereka,” harap Alex yang menjawab lewat email. Continue reading “rUMAH NENEK IVANNA”

dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING

“Save the best for last. Kalimat tersebut sangat sesuai untuk vila ini. Letaknya di akhir sebuah jalan, sekaligus di ujung tebing. Bahkan sebagian bangunannya menggantung di atas tebing dan sungai di bawahnya.”

 

Di atas kertas, lahan ini terkesan besar, 700 meter persegi. Namun pada kenyataannya, sebagian besar berupa lereng batu yang terjal ke arah sungai. Jadi hanya sebagian kecil yang bisa dibangun. Terdengar seperti masalah besar, namun tidak bagi seorang arsitek. “Kita harus pandai melihat potensi lahan. Dengan bantuan teknis konstruksi, lahan yang tidak punya value bisa kita sulap menjadi properti yang bernilai bisnis serta hunian yang  nyaman. Kita bisa memanfaatkan potensi view dan ornamen yang sudah disediakan alam dan budaya di Bali. Misalnya Pura di seberang sungai itu. Sangat menarik untuk kita jadikan objek desain arsitektur yang menjadi focal view, ” jelas Alec, arsitek yang merancang dan juga pemilik vila ini. Continue reading “dI UJUNG JALAN, DI TEPI TEBING”