dAPUR ‘KERAS’ YANG MEMBENTUK BLAKE THORNLEY

DAPUR KERAS YANG MEMBENTUK BLAKE THORNLEY DSGNTALK-

Apakah juru masak bisa dianggap desainer? Bagi kami ya. Karena apa yang mereka lakukan adalah sebuah ‘problem solving’ di bidangnya, yaitu kuliner. Merumuskan masalah, menentukan konsep, material (bahan-bahan) yang digunakan, teknik eksekusi, dan tentu saja sentuhan seni yang membuat karya mereka terlihat indah. Blake Thornley adalah salah satu desainer itu.

Ini cerita tentang tekad seorang anak nakal di sekolah, yang mengejar gairah dalam hidupnya. Pada ulang tahun ke sebelas, ia meminta papan selancar sebagai hadiah. Ya, berselancar adalah semangat hidupnya. tapi ibu malah menyuruh dia bekerja agar bisa membeli papan selancarnya sendiri. Ia lalu mendapat pekerjaan sebagai pencuci piring di dapur sebuah restoran, yang memberi dia uang untuk membeli papan selancar pertamanya. Sambil memegang papan selancar itu ia bergumam penuh semangat, “Yess! Mulai sekarang aku akan berselancar sepanjang waktu”. Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.

Hari-hari Blake Thornley lebih banyak ‘berselancar’ di dapur, yang ia gambarkan dengan kalimat ; ‘Kitchen is harsh and fun at once’. Suasana kerja penuh teriakan, makian, sumpah serapah, bahkan pukulan, yang berlangsung dalam dapur restoran menjadi perkenalan yang membekas pada jiwa Blake Thornley muda. Dia menikmati lingkungan ‘keras’ itu, menemukan gairahnya tentang makanan dan dunia hospitality. Sebagai gambaran, Blake Thornley pernah menjadi bagian dari tim dapur beranggotakan 12 orang pada restoran fine dining yang baru dibuka. Di akhir bulan, hanya tiga orang bertahan termasuk dirinya. Bekerja hingga 20 jam sehari, enam hari seminggu. melayani 200 orang sehari pada level fine dining.

Pada usia 13 tahun, ia memenangi belasan medali emas di berbagai kompetisi memasak internasional. Dua tahun kemudian dia bekerja pada sebuah restoran ternama di Amsterdam, menikmati  teriakan dan sumpah serapah dalam bahasa Belanda yang bahkan tidak dia mengerti. Menjadi Chef de Cuisine bagi Mozaic Restaurant, Bali, menjadi awal karir pria asal Selandia Baru ini di Indonesia. 

Kali ini kami berkesempatan menikmati hasil rancangan Blake. Hidangan pembuka dan penutup ini, bukan menu tersulit yang pernah dibuat chef Blake Thornley. Namun kedua menu tersebut bisa menggambarkan kematangan anak nakal itu di usia sekarang, 31 tahun. Dia mengeksplorasi bahan yang umumnya digunakan hanya sebagai bumbu masak di Asia, yaitu kunyit dan daun kemangi. Memahami karakter rasa masing-masing bahan dan memperkirakan hasil jika keduanya digabung. Beroleh pengalaman dari banyak dapur restoran terbaik di berbagai negara, chef Blake Thornley memiliki teknik yang memberinya keleluasaan dalam mengolah bahan. Kunyit, rimpang kuning yang biasa terpendam dalam tanah tidak lagi sekadar menjadi bumbu bagi bahan utama. Blake mendaulat kunyit menjadi pemeran utama dalam karyanya kali ini. Sebuah hidangan penutup dalam wujud sorbet kunyit, berdampingan dengan jelly daun kemangi. Kami bahkan tidak terpikir tentang itu, apalagi menyandingkan keduanya. Dua bahan lokal yang dieksekusi dengan ‘teknik Barat’ belum cukup. Ia menambahkan taburan white chocolate powder yang dia buat sendiri pada pencuci mulut ini. Untuk hidangan pembukanya, Blake menyajikan salmon dengan puree dari jahe dan wortel, baby carrot, ditambah remahan tempe. Melihat apa yang dibuat Blake, maka wajar jika kami menganggap chef adalah seorang desainer.

DAPUR KERAS YANG MEMBENTUK BLAKE THORNLEY DSGNTALK CHEF KITCHEN FOOD CULINARY RESTAURANT COOKING BAKE DESERT
Sorbet yang berbahan dasar kunyit dan jelly dari daun kemangi. Lensed by Syafril Hendro (https://www.instagram.com/syafrilphoto/).
DAPUR KERAS YANG MEMBENTUK BLAKE THORNLEY DSGNTALK CHEF KITCHEN FOOD CULINARY RESTAURANT COOKING BAKE DESERT
Pan Seared Salmon- carrot ginger puree, glazed baby carrots, tempe crumble. Lensed by Syafril Hendro (https://www.instagram.com/syafrilphoto/).

 

 

Author: Adon Amrin

Design enthusiast, Architecture graduate, Former interior journalist for a dozen years, Britpopper, and Manchester is Red.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s