wENDY DJUHARA : ARSITEK ITU SEPERTI PELARI MARATHON

wendy djuhara ahmad djuhara arsitek indonesia iai arsitektur

Wendy Djuhara mengakui jika arsitektur masih dipandang sebagai dunia ‘patriarki’. Arsitek lulusan Universitas Parahyangan, Bandung ini adalah satu dari wanita Indonesia yang konsisten berkarya sebagai arsitek. Bersama dengan sang suami, Ahmad Djuhara, dia mendirikan biro arsitek Djuhara+Djuhara yang mereka jaga agar tetap sebagai biro kecil. Keputusan mendirikan biro desain sendiri juga memberi kebahagiaan tersendiri bagi Wendy sebagai seorang ibu dengan dua anak.

Ada berapa orang yang bekerja di kantor Anda saat ini?

Selain saya dan suami, ada empat orang lain yang semuanya arsitek. Jadi kami berenam. Saya dan suami juga mengerjakan semua urusan administrasi. Karena itu kami tidak mau mengambil klien-klien besar atau pemerintahan yang perlu kelengkapan dan syarat administrasi yang banyak. Takutnya malah tidak tertangani dengan baik.

Apa tidak ingin menjadi biro yang lebih besar? Jika melihat kualitas dan nama besar Anda berdua sebagai arsitek sepertinya sangat memungkinkan untuk menarik klien-klien besar dan arsitek-arsitek muda berbakat untuk bekerja di tempat Anda?

Saya dan suami pernah bekerja di PAI selama 10 tahun, sebuah biro desain dengan ratusan karyawan kala itu. Saat kami memutuskan untuk keluar dari PAI, kami juga memutuskan untuk membuat karakter desain kami sendiri, karakter biro kami sendiri. Waktu itu sekitar tahun 2004 kami belum punya kantor sendiri dan memutuskan untuk memulai sementara di rumah. Kebetulan di sebelah rumah ada lahan kosong. Kami membangun kantor kecil di situ dan terus bertahan hingga sekarang.

Pertimbangan lain kala itu adalah anak-anak. Ketika saya bekerja sebagai orang kantoran saya berpikir, anak-anak saya ditinggal seharian dengan pengurus rumah. Setelah mulai kerja di rumah saya merasa lebih senang karena ketika anak-anak pulang dari sekolah, saya ada. Jika mereka perlu apa-apa tinggal ke halaman sebelah. Saya merasa sangat beruntung bisa ada saat mereka tumbuh. Waktu itu usia mereka 12 dan 9 tahun.

Shining Stars Bintaro (39) - Photo by Tony Djohan copy
Shining Stars Bintaro – Photo by Tony Djohan

Sebagai arsitek wanita yang juga seorang ibu, bagaimana Anda melihat dunia arsitek?

Arsitektur itu bidang yang berat unuk wanita. Arsitek mirip dengan pelari marathon, bukan sprinter. Arsitek memerlukan totalitas, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Sementara wanita juga berperan sebagai ibu, punya anak dan keluarga. Hal itu yang membuat arsitek wanita harus punya ketahanan lebih. Belum lagi di dunia konstruksi yang kebanyakan pekerjanya laki-laki. Tidak jarang ada tukang yang bersiul saat melihat arsitek wanita di proyek.

Tapi kita bisa melihat ada banyak nama arsitek wanita yang sukses sebagai arsitek, selain Zaha Hadid. Anne Tyng misalnya. Dia adalah arsitek wanita yang pernah bekerja di biro milik Louis Kahn. Banyak karya terbaik Kahn yang sangat dipengaruhi pemikirannya, tapi namanya tidak pernah tercantum sebagai arsitek bangunan tersebut.

Widjanarko House 1 - photo by Wendy Djuhara copy
Widjanarko House – photo by Wendy Djuhara

Anda dan suami juga bekerjasama sebagai arsitek dalam satu biro. Apakah ada klien yang lebih memilih diarsiteki oleh Ahmad Djuhara, sebagai arsitek pria, dibanding Anda?

Kami selalu maju berdua ke klien karena karakter saya dan mas Djuahara berbeda. Kita tidak tahu klien akan lebih cocok dengan siapa. Pernah suatu kali ada klien yang minta bertemu karena tertarik dengan salah satu karya mas Djuahara. Ketika kami presentasikan portfolio Djuhara+Djuhara, klien itu memilih satu karya yang dia suka. Ternyata itu desain saya. Maka saya yang jadi arsitek untuk klien itu. Pernah juga sebaliknya. Kadang saya dan mas Djuhara mendesain masing-masing dan mengajukan ke klien sebagai alternatif satu dan dua. Lalu klien memilih.

wendy djuhara ahmad djuhara arsitek indonesia iai arsitektur
Canteen at Plaza Indonesia – Photo by Yanto Effendy

Bagaimana Anda dan suami membagi waktu kerja dan waktu pribadi?

Iya benar. Agak sulit membedakannya. Kadang tengah malam saya atau suami baru terpikir ide atau solusi baru yang sepertinya akan keren. Maka kami membahasnya dengan antusias. Kami tidak menganggapnya sebagai kerjaan karena kami menikmatinya. Saya baca apa, nanti saya share ke dia. Dia belajar apa, nanti diceritakan ke saya. Jadi kami ada percepatan ilmu.

 

Apa memang hanya arsitek yang bisa memahami dunia arsitek, maka Anda berdua cocok?

Tidak juga. Banyak arsitek yang punya pasangan berprofesi lain dan cocok-cocok saja. Tapi dulu waktu kuliah mas Djuhara pernah bilang; “Kita salah main. Mainnya sama arsitek lagi. Jadi bertemunya dia lagi-dia lagi”. Hahaha. Habis mau bagaimana? Yang mengerjakan tugas sampai bergadang ya mahasiswa arsitek. Mahasiswa jurusan lain sudah tidur.

Kedua anak Anda mengambil jurusan arsitektur. Apakah juga akibat dari lingkungan ‘dia lagi-dia lagi’ dengan kedua orang tua yang arsitek?

Sebenarnya kami tidak pernah mengarahkan anak-anak jadi arsitek. Kami memang sering mengajak mereka kalau ada acara open house arsitek, atau traveling ala saya dan suami yang ‘arsitektural’. Karena sejak kuliah dulu kami memang sering jalan-jalan sambil bikin penelitian arsitektur. Mungkin di bawah sadar anak-anak kami tertanam hal-hal yang indah tersebut.

Author: Adon Amrin

Design enthusiast, Architecture graduate, Former interior journalist for a dozen years, Britpopper, and Manchester is Red.

2 thoughts on “wENDY DJUHARA : ARSITEK ITU SEPERTI PELARI MARATHON”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s