iDE ITU ORGANIK. MEREKA TAURUS ATAU CANCER – LALA BOHANG

Tidak banyak hiburan yang bisa ditemui di kota Palu kala itu. Sepulang sekolah, gadis kecil ini memilih tenggelam dalam cerita-cerita karya Enid Blyton, Astrid Lindgren, atau menggambar, dibanding main keluar di bawah matahari khatulistiwa yang terik. Kebiasaan ini melahirkan ikatan yang kuat terhadap buku, cerita, tulisan, dan kemampuan menggambarnya yang terus terasah. Sarjana arsitektur dari Universitas Parahyangan ini sekarang sedang menikmati perannya sebagai seorang ilustrator dan penulis buku. Ia adalah Lala Bohang

Buku pertama yang ia buat bukan novel, kumpulan puisi atau cerpen. Ia hanya diminta membuat ‘ramuan’ sendiri dengan dasar kemampuan menulis dan menggambarnya. Dua minggu setelah buku pertamanya diterbitkan sebanyak 3000 eksemplar, ia diberitahu akan ada cetakan kedua sebanyak 5000 eksemplar. Sampai sekarang buku pertamanya telah dicetak ulang delapan kali. Sukses dengan buku tidak membuatnya lupa dengan medium lama yang ia geluti, dinding. Ia menjadi salah satu seniman yang karyanya turut menghiasi dinding Jakarta Creative Hub.

Lala Bohang
https://www.instagram.com/lalabohang/

Mengapa tidak meneruskan karir sebagai arsitek saja?

Saya memang kuliah arsitektur, tapi tidak secinta itu dengan arsitektur. Saya tidak mau jadi arsitek. Tapi orang tua kan maunya kita bekerja sesuai dengan jalurnya. Jadi waktu itu sempat kerja di pengembang properti sebagai tim business development. Tapi lama kelamaan muak, tidak enjoy. Jadi biar tidak terlalu bete saya gambar-gambar di sela-sela waktu. Menghibur diri.

Kapan mulai memutuskan menjadi ilustrator?

Waktu itu saya semakin yakin, sepertinya saya tidak cocok kerja kantoran. Sekitar tahun 2009 saya diajak ikut pameran. Di sana saya bertemu dengan ilustrator profesional. Saya baru tahu, jadi ternyata bisa ya hidup dari menggambar. Sejak itu saya mulai lebih serius dalam menggambar.

Lala Bohang
Foto : https://www.instagram.com/lalabohang/

Pernah merasa tidak percaya diri dengan karya Anda?

Oh iya, pasti. Awalnya saya merasa apa yang saya buat ini ngga banget. Tapi ternyata kreativitas dan berkarya itu perlu latihan, untuk menghadapi ketakutan kita, keraguan kita, dan kemudian melewatinya. Lama kelamaan kita akan bisa berdamai dengan perasaan-perasaan tersebut. Jika sudah terbiasa berproses dan berkarya, kita bisa memandang perasaan itu dari luar. Dia tetep ada, tapi kita bukan lagi berada di tengahnya. Kita memandangnya dari luar kekusutan itu. Tapi dia harus tetap ada. Karena orang yang tidak punya ketakutan dan keraguan itu sangat bahaya. Kita memerlukan perasaan ketakutan itu untuk bisa tumbuh lebih baik lagi.

Lala Bohang
https://www.instagram.com/lalabohang/

Menggambar itu tricky. Harus punya waktu panjang yang tidak terganggu. Sekali kita sudah enak menggambar karena terpikir tema tertentu, harus mengalir terus.. Tidak boleh terganggu. Seperti pada waktu proses pembuatan buku pertama, saya agak membatasi waktu untuk keluar bertemu orang.

Mengapa Anda memilih membuat buku di era digital seperti sekarang?

Pertama karena saya suka membaca buku. Bahkan mimpi saya dari kecil sebenarnya jadi penulis. Sempat beberapa kali mengirim naskah, tapi tidak ada yang diterima. Sewaktu saya mulai sering pameran, keinginan membuat buku itu terpinggirkan. Lalu di satu titik saya merasa berpameran dan karya visual itu hanya bisa diakses dari galeri atau internet. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi galeri punya keterbatasan ruang dan waktu. Hanya orang yang datang ke galeri itu saja yang bisa menikmatinya. Ada juga batas waktu berlangsungnya pameran. Sementara di internet, setiap hari ada jutaan konten digital yang ‘menyerang’ kita. Akan sulit bagi orang untuk fokus dan menikmati karya kita. Tapi ada medium yang tidak terbatas ruang dan waktu. Itulah buku.

Buku juga affordable semua kalangan, dan accessible. Buku bisa kita nikmati sendirian di ruang privat kita. Bisa di kamar tidur atau bahkan di toilet. Saya harus buat buku!

Lala Bohang
https://www.instagram.com/lalabohang/

Apa tema buku pertama Anda?Judulnya The Book of Forbidden Feelings. Seri pertama dari tiga buku yang saya rencanakan. Buku kedua berjudul The Invisible Questions. Buku ketiga belum pasti.

Ceritakan sedikit tentang ‘forbidden feelings’

Kultur kita semenjak era digital dan sosial media cenderung lebih fokus merayakan hal-hal yang ‘mengkilap’ saja. Yang di-posting itu waktu makan di restoran bagus, liburan ke tempat-tempat indah, pakai OOTD (outfit of the day) yang bagus, dan sebagainya. Bukannya saya mengkritisi, tapi manusia itu sangat ‘multilayer’. Bahaya jika mereka yang muda-muda merasa harus selalu sempurna. Mindset seperti itu mengerikan. Jadi harus ada ‘panggung’ untuk hal-hal yang tidak dirayakan juga. Waktu buku pertama ini keluar, ada pembaca yang menanyakan, ‘kok bisa sih bikin hal yang notabene tidak manis, tidak cantik, tidak positif, tapi enak di konsumsi?’. Lalu saya terpikir untuk membuat pameran yang terkait dengan peluncuran buku ini. Saya meminta bantuan sekitar 69 orang teman, sahabat, relasi, mantan pacar, saudara, untuk menyumbangkan satu benda yang mereka anggap punya cerita tentang ‘forbidden feeling’.

Salah satu benda yang diberikan teman saya untuk pameran ini adalah pil kontrasepsi. Dia seorang seniman. Setelah dia mengkonsumsi pil itu, dia merasa menjadi orang yang ‘datar’. Moodnya tidak naik turun seperti sebelum dia menikah dan punya anak. Suaminya merasa senang dengan dia yang seperti itu. Sementara dia merasa jadi sulit untuk berkarya. Jadi pil itu membuatnya sukses sebagai seorang ibu dan istri, tapi untuk berkarya dia benar-benar kesulitan.

Lala Bohang
https://www.instagram.com/lalabohang/

Berapa lama proses pembuatan buku pertama dan kedua?

Dari awal pengerjaan sampai terbit sekitar satu tahun. Selain soal teknis antara penulis dan penerbit, waktu itu saya masih tahap mengatasi perasaan gelisah, kurang pede sebagai penulis buku. Kalau menggambar ilustrasi di pameran sih sudah santai. Tapi begitu mediumnya berubah, jadi buku, saya jadi insecure. Bagaimana ya membuat karya yang bagus, membuat karya yang masuk akal, paling tidak masuk akal untuk saya sendiri. Toh nanti pasti di luar sana ada orang-orang yang ‘satu frekuensi’ bisa mengerti apa yang saya buat.

Buku kedua lebih cepat, sekitar enam bulan. Karena waktu itu saya mengejar momen untuk launching di acara Makassar International Writers Festival di bulan Mei 2017.

Bagaimana pendapat pembaca tentang kedua buku tersebut?

‘Kok beda ya buku pertama dan kedua?’. Saya jawab, iya memang berbeda karakternya. Mereka itu siblings. Tidak bisa dibandingkan. Tapi mereka bersaudara. Benang merahnya adalah mereka membicarakan hal-hal yang eksis, tapi tidak kita ekspresikan. Mungkin karena akan membuat orang lain atau membuat kita sendiri tidak nyaman. Tapi jika dikemas dengan baik, orang bisa lebih terbuka dan berani untuk menceritakan hal-hal personal tadi, forbidden feelings, invincible questions.

Lala Bohang
https://www.instagram.com/lalabohang/

Sebenarnya dari mana Anda mendapatkan ide-ide itu?

Belakangan ini saya punya pemikiran. Saya percaya ide itu sebenernya makhluk hidup bukan awang-awang yang tiba-tiba muncul. Ide itu organik, dia punya universal sendiri. Tapi mereka datang melalui saya. Ketika saya terpikir sebuah ide, lalu saya tidak mengacuhkan dia, kemudian ada orang yang muncul dengan ide yang sama. Kesannya seperti si ide itu berkata kepada saya; ‘Kenapa kamu tidak mengacuhkan aku waktu itu? Padahal aku sudah memilih kamu waktu itu’.Ide itu harus ditemani mengobrol, diakrabi, nanti dia akan percaya ke kita, dia akan membuka diri, dan menjadi make sense buat kita. Kalau ide itu terus-terusan muncul, berarti dia minta banget untuk diwujudkan. Kita dianggap punya kapabilitas untuk membuatnya berwujud. Kita bekerja untuk si ide yang organik ini. Jika tidak dia akan pergi atau mati.

Unik juga sifat si ide ini. Kira-kira apa zodiaknya?

Mungkin cancer dan taurus. Sering melibatkan perasaan dan ada reaksi berlebihan juga. Kadang bisa kejam, seperti tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar.

Lala Bohang by Yudi Hertanto
Foto : Yudi D Hertanto – https://www.instagram.com/yudi67dh/

 

 

Author: Adon Amrin

Design enthusiast, Architecture graduate, Former interior journalist for a dozen years, Britpopper, and yes, Manchester is Red.

3 thoughts on “iDE ITU ORGANIK. MEREKA TAURUS ATAU CANCER – LALA BOHANG”

  1. Sering melibatkan perasaan dan ada reaksi berlebihan juga. Kadang bisa kejam, seperti tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar. Hahahaha…. Gw bgt…. Sy gemini dan cancer loh Pak 🤣🤣

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s