tHE ICONIC HILLTOP VILLA

Kawasan Selong Belanak, bagian Selatan Lombok, Nusa Tenggara Barat, punya banyak bukit yang seolah mengepung pantai pasir putihnya yang indah. Di salah satu bukit itu dibangun sebuah vila yang ikonik. Perancangnya adalah arsitek yang telah mendapatkan beragam penghargaan internasional, Budi Pradono, pendiri Budi Pradono Architects. Tanyakan saja pada penduduk setempat tentang ‘vila kontainer’, mereka akan menunjuk ke bukit yang tepat. Pemiliknya memberi nama Seven Havens.

Budi Pradono sadar akan konsekuensi yang disebabkan posisi lahan yang berada di puncak bukit. Bangunan ini akan secara otomatis menjadi ikon bagi lingkungan sekitarnya. Jika Anda mengenal Budi, Anda akan tahu bahwa dia tidak mau mengerjakan proyek yang tidak menantang. “Saya senang sekali karena ibu Wulan, pemilik villa ini, berani membuat bangunan yang tidak biasa. Salah satunya adalah soal pemilihan rammed earth sebagai material utama bangunan,” ujar Budi Pradono. Ya, bangunan vila ini bukan hanya menjadi ikon secara visual, ia juga mewakili karakter wilayahnya melalui penggunaan bahan-bahan setempat sebagai material utama.

Budi Pradono memilih tanah liat yang dikumpulkan dan digunakan para pengrajin batu bata di wilayah tersebut. Untuk membuat dinding bangunan, tanah liat ini dicampur dengan pasir, semen, jerami, serta kotoran sapi atau kerbau. Semua bahan tersebut mudah didapat di wilayah ini. Jerami dan kotoran sapi menjadi serat kuat yang mengikat tanah liat. Orang-orang di negara Barat mengenal dinding semacam ini dengan sebutan rammed earth wall. Dinding tanah liat setebal 30 cm akan mengurangi dampak paparan sinar matahari pada interior, mengurangi panas hingga 50 persen. “Saya memilih rammed earth karena semua materialnya tersedia di tempat ini dan sesuai dengan kondisi cuaca Lombok,” jelas Budi. “Justru pelancong dari luar negeri yang lebih kenal rammed earth. Mungkin karena di tempat mereka lebih sering dijumpai, terutama turis dari Australia,” ujar Wulan, pemilik Seven Havens.

Material lokal lain yang digunakan adalah bambu yang mudah ditemui dan relatif murah. Bambu-bambu ini dipanen pada waktu malam, untuk mencegah fotosintesis. Selanjutnya bambu diawetkan dengan direndam dalam air laut selama dua bulan. Setelah dikeringkan, bambu dilapis dengan cat atau teknik white washed.

Kontainer bekas didapat dari pelabuhan di pulau tetangga. Tinggi kontainer hanya 2,2 meter. Untuk mendapat ketinggian ruang yang pas, kontainer ini dimiringkan 60°. Untuk mengurangi radiasi panas di ruang dalam, digunakan bambu sebagai insulasi. Kontainer ini juga dicat putih agar bisa memantulkan sinar matahari agar suhu di dalam lebih sejuk. Wulan pula yang berkeras ingin memakai kontainer bekas untuk menciptakan elemen ikonik. Bisa dibayangkan kesulitan saat proses menaikkan kontainer tersebut ke puncak bukit yang terjal. Namun arsitek dan klien yang sama-sama nyeleneh ini tidak mau kompromi.

IMG_20181018_154018
Foto : Adon Amrin – https://www.instagram.com/adonamrin/

Organisasi ruang dan komposisi masa diatur dengan kolam renang sebagai pusat orientasinya. Di sisi kiri kolam ada bangunan berisi ruang publik seperti lounge, dining, dan pantry, yang memanjang sejajar kolam renang. Di atasnya ada kamar tidur utama, sebagai tempat paling strategis untuk mendapat pemandangan terbaik kawasan ini – bukit, hutan, sawah, pantai, dan laut lepas. Kamar kedua ada di kanan kolam renang, dengan view ke arah laut dan bukit-bukit di tepi pantai. Kamar terakhir punya private terrace untuk menikmati hamparan sawah di bawah bukit.

Untuk mencapai ke ruang-ruang tersebut, tamu yang telah memarkir kendaraannya akan melalui tangga ke atas dengan dinding-dinding tanah liatnya, dan pada akhirnya mereka akan disajikan kejutan keindahan pemandangan laut dan kolam renang. Sebuah pengalaman ruang sebelum mereka mengalami ruang-ruang dalam/interior di Seven Havens. Mengapa namanya Seven Havens? Karena proyek ini belum selesai. Masih ada empat kamar lagi yang akan dibangun, hingga semuanya berjumlah tujuh kamar yang berada di surga tropis.

Author: Adon Amrin

Design enthusiast, Architecture graduate, Former interior journalist for a dozen years, Britpopper, and Manchester is Red.

2 thoughts on “tHE ICONIC HILLTOP VILLA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s